Jika saya bilang kalo saya belum pernah naik pesawat, saya yakin teman-teman saya akan tertawa meledek sekaligus tak percaya. Mereka tentu akan bilang : “Masa sih?” meski itulah kenyataan sebenarnya. Teman-teman kuliah dan teman kerja saya kebanyakan sudah sering dan biasa menggunakan jasa transportasi udara sedangkan saya belum pernah.
Saya termasuk orang yang takut untuk mencoba hal- hal baru. Pergi ke tempat jauh yang belum pernah saya datangi sebelumnya dan naik pesawat terbang adalah salah duanya. Sampai umur dua puluh delapan, saya belum pernah naik pesawat sekalipun. Meski kadang ingin mencoba merasakannya, saya tetap saja tidak berani melakukannya sendiri. Namun bila dipikir-pikir, pasti ada “pertama kali” untuk setiap hal.
Sebulan yang lalu, saya dan teman-teman mendapat tugas di luar pulau sehingga mau tidak mau saya harus naik pesawat untuk pertama kalinya. Jadwal pesawat waktu itu pukul 6.10. Kata orang-orang, kalo naik pesawat itu harus datang satu jam sebelumnya, yang berarti pukul 5.10. Dari bintaro pengennya saya naik X-trans tetapi berhubung teman saya yang biasa mintai tolong mengantar ke mana-mana tak ada, jadilah saya naik taksi jam 4.15 setelah sholat. Karena pagi belum ada kemacetan, cukuplah 46 menit waktu tempu dari rumah kontrakan sampai ke depan pintu terminal 1b.
Sebagai orang yang gagap pesawat, sehari sebelum keberangkatan saya bertanya tentang bagaimana prosedur yang harus saya lakukan ketika sebelum pesawat berangkat. Katanya sih saya disuruh masuk ke terminal chech in aja dulu. Ketika sampai di sana ternyata kira-kira begini:
1. Masuk dengan menunjukkan tiket
2. Melewati pintu detektor dan memasukkan barang ke pemeriksaan x-ray
3. Ambil barang tadi
4. Check in, ini kurang lebih seperti kita ngomong kalo kita jadi naik dan nitip barang ke bagasi jika ada.
5. Membayar airport service charge sebesar Rp40.000,00
Airport service charge (ind. Biaya pelayanan bandara) ini biasa disebut dengan airport tax atau pajak bandara meski penyebutan yang lebih pas menurut saya adalah retribusi bandara. Retribusi atau biaya pelayanan bandara ini terkadang harus dibayar ketika check in kadang baru dibayar setelah check in yakni ketika hendak menuju ke ruang tunggu.
6. Menuju ruang tunggu
Ketika menuju ruang tunggu, kita akan melewati pemeriksaan badan dan barang sekali-lagi.
7. Setelah sampai di ruang tunggu, tunggu pengumuman dan naiklah ke pesawat ketika pesawat sudah siap.
Setelah pesawat siap atau dipersilakan naik, rasanya saja di bus. Tas ditaruh di atas, yang di kecil bisa dipangku atau di bawah kursi. Sebelum take-off, kru akan menerangkan prosedur keselamatan seperti cara memakai dan melepas sabuk pengaman, pelampung, dan masker oksigen. Ketika pesawat mulai berjalan kemudian naik, rasanya seperti bus yang naik gunung. Perbedaan tekanan udara membuat telinga saya gemrebeg. Seperti biasa, saya melakukan adegan tangan mengepal membetuk seperti corong, meniupnya dan meletakkan di kuping untuk mengatasinya. Mungkin ada yang bertanya, “Emang ngaruh?”. Tentu saja, menurut saya itu berguna seperti meletakkan gelas ke dekat telinga. Hanya saja, kalo dipikir2 tidakan mengepal dan meniup terlebih dahulu itu tidak perlu. Hehe.
Di dalam pesawat, seperti juga di bus yang sering saya tumpangi, saya diberi snack. Berhubung sarapan saya belum sempat termakan, snack itulah yang saya habiskan. Di dalam pesawat kita bisa “ke belakang” ketika keadaan sudah stabil, ditandai dengan boleh tidak memakai sabuk pengaman. Ketika pesawat akan turun dan mendarat, tanda sabuk pengaman dinyalakan lagi dan berarti saya harus mematuhinya. Setelah pesawat benar-benar berhenti, barulah sabuk dilepas, ambil barang dan kemudian turun.
Sampai di bandara tujuan, jangan lupa ambil barang yang dititipkan di bagasi tadi di tempat pengambilan. Setelah barang lengkap, mari kita jalan-jalan di kota tujuan.
mosok tho mas…numpak pesawat lungo nang ndi?
tuh kan… mosok toh alias “masa sih”. Hehe.
Bener nda… ning Belitung “_”