Di suatu belahan bumi, ada sebuah kebun binatang kecil (kb). Di kb itu ada daratan, hutan buatan, dan ada kolamnya… Berbagai hewan hidup tertata di sana, sampai beberapa tahun yang lalu banyak sekali ‘tikus’ yang muncul. ‘pengunjung’, selaku penikmat dan yang membiayai kb (bayar karcis) merasa terganggu dan meminta pengelola untuk membersihkan ‘tikus’2 dari area kb.
bersambung….
Pengelola kemudia membuat alat penangkap, perangkap, dan racun ‘tikus’. Pengelola meminta bantuan ‘buaya’ untuk menghabisi ‘tikus’ yang sudah tertangkap dan juga memburu ‘tikus’2 yang juga kadang berenang di kolam. ‘buaya’ sangat senang dan semangat dengan tugasnya ini. Di samping karena naluri ‘pemburu’ dan ‘pembunuh’nya, dia juga merasa bangga karena jadi sanjungan pengelola. Dia juga mendapat keuntungan lebih karena ada tambahan untuk membuat perutnya kenyang, di samping biasanya menyantap ‘bebek’. (Sebagai tambahan informasi, ‘buaya’ biasa memakan lebih banyak bebek menjelang ultahnya tanggal 1 Juli, menjelang lebaran, dan tahun baru)
Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola sudah merasa puas dengan untung dari banyaknya ‘pengunjung’ sehingga sudah tidak terlalu mempedulikan masih banyakkah ‘tikus’2 berkeliaran. ‘buaya’ juga mulai capek dan bosan. Di samping itu, ‘tikus’2 pandai melihat situasi, pandai bernegosiasi. Dia mempengaruhi ‘buaya’ dengan mengatakan ada makanan yang lebih enak daripada kami, yaitu makanan yang dibawa ‘pengunjung’. ‘tikus’ akan memberikan bagian keju dan makanan lain yang dicuri dari ‘pengunjung’. ‘buaya’ yang sudah terkena virus dari ‘tikus’ itu pun mulai mencari sendiri makanan yang dipegang para ‘pengunjung’ di dekat kolam. Dia bahkan tidak peduli kalo sampai melukai ‘pengunjung’ dan akhirnya dia ditembak oleh pengelola (karena pengelola sudah tidak begitu mengawasi, asyik dengan uangnya sendiri yang diberikan oleh ‘pengunjung’).
Beberapa bulan kemudian ‘pengunjung’ melihat hal yang sebenarnya. Para penikmat ini melihat masih banyak ‘tikus’ berkeliaran namun pengelola nampak ‘cuek’ saja. ‘pengunjung’, kemudian mencari alternatif. Dia menggunakan hewan baru yang bisa dipercaya. Dia memilih hewan yang sama- sama reptil namun dia berada di lingkungan yang bersih (dinding). Nafsu makannya juga lebih sedikit daripada ‘buaya’. Dia hanya memakan nyamuk kecil. Dia memilih ‘cicak’.
Para ‘cicak’ ini independen karena mendapat mandat langsung dari ‘pengunjung’, tidak berada di bawah pengelola. Para anggota ‘cicak’ juga tersebar di mana- mana. Ada yang di pohon, di dekat kolam, di dinding, di batu, maupun di tanah. Para pimpinan ‘cicak’ ada 5 yang merupakan wakit dari tiap daerah ahlinya (tanah, dinding, pohon, kolam, batu). Mereka segera berkoordinasi dan menugaskan kelompoknya untuk menarik ‘tikus’ kepada perangkap2 yang sebenarnya sudah ada dan dibuat oleh pengelola di masa lalu. ‘cicak’ berhasil menangkap para gembong ‘tikus’ sehingga beberapa ‘tikus’2 kecil lari dari kb atau takut dan tidak mencuri dari ‘pengunjung’ lagi.
0 Tanggapan ke “Kebun Binatang (bagian 1)”