Ada hal yang saya rindukan di kota kelahiran saya ketika bulan puasa yaitu cara membangunkan sahur.
THONGTHEKAN
Sekitar jam setengah tiga (dini hari) anak- anak sudah berkumpul di langgar. Bahkan kebanyan dari mereka memang tidur di musholla al azhar tempat kami biasa mengaji. Alat- alat seperti kentongan, drigen, besi, dll sudah dibawa masing- masing personil. Maka berkelilinglah mereka mendendangkan lagu “sahuuur… sahuur” diiringi music khasnya.
Untuk yang ini saya kurang sreg karena terkadang terdengar mengusik dan mungkin akan lebih baik kalo waktunya digunakan untuk baca qurán, dll. Tapi namnaya juga anak anak, jadi ya harap maklum.
TARHIM
Sekitar jam tiga, terdengar suara speaker dari berbagai arah. Berbagai pujian, ayaat Al Qur ‘an, dan hadits yang ada sangkut pautnya dengan puasa dilagukan sampai kira- kira sepuluh menit sebelum subuh (orang- orang menyebutnya imsak). Setahu saya sih RasululLoh biasa berhenti makan sahur beberapa saat sebelum subuh (meskipun kewajiban menahan makan, minum, dan jima’ dimulai ketika fajar shodiq/subuh). Dalam beberapa tulisan, beberapa saat itu adalah 10-15 menitan.
Tasahharu… fainna fissahuuri barokah. Itulah salah satu hadits yang terkenal. “Bersahurlah… sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barokah”, kurang lebih seperti itu.
SAHUR. Sudah hal yang wajar ketika puasa kita terasa lapar. Dan menjadi hal yang lumrah jika kita disuruh menyiapkan bekal untuk berlapar ria sehari nantinya. Itu salah satu tanda kalo gusti alLoh itu memahami kekuatan/keinginan hambanya. Siapa sih yang ga seneng disuruh makan? Coba kalo kita disuruh menahan lapar sehar semalam dan hanya makan ketika magrib. Mau?
SAHUR. Selain berfungsi berguna secara fisik, bersahur berarti melaksanahan sunnah.Siapa yang mencintai sesorang, biasanya dia akan meniru kelakuannya. Mungkin begitu pula ketika kita cinta rosul, pantaslah kiranya kita mencontohnya.
Udah disuruh makan, diberi pahala pula. Karena itu, mari kita sahur! (eits..jangan sekarang, nanti kalo dini hari) meskipun hanya dengan air putih.